Langsung ke konten utama

Sekelumit Kegiatan Di Desa

Liburan hampir usai, waktu-waktu kosong hampir hilang. Sekarang, waktunya wafa kembali kepada aktifitasnya sebagai mahasiswa. Lagi, wafa harus meninggalkan kampung halaman untuk beberapa bulan kedepan. Beberapa rencana telah di siapkan untuk wafa selama di Jogja kota yang istimewa. Tetapi sebelum wafa berangkat ke Jogja, wafa mencoba mengingat kembali apa-apa saja yang wafa lakukan selama liburan ini.

Memasak Bubur



Tak banyak yang wafa lakukan selama liburan ini selain makan dan tidur. Sebuah perbaikan gizi katanya, dengan makan dan tidur yang terjamin. Tak seperti di saat di Kosan, Wafa tak perlu memikirkan lagi harus makan kemana dan makan apa. Wafa hanya perlu ke dapur lalu mengambil nasi dan lauk sepuasnya (yang penting satu rumah kebagian). Dalam sehari wafa bisa sampai empat kali makan. "Hadeh faa.. banyak amat makanmu". Mungkin memang sudah dasarnya begini, meskipun makan banyak tetap saja badan segini-gini aja. Dalam hal tidur, wafa tak banyak cerita. Mungkin hanya beberapa mimpi yang aneh dan panjang, mungkin karena tidurnya terlalu lama.

Selain makan dan tidur, sebenarnya banyak hal yang wafa lakukan. Sebagai anak seorang petani, seperti mencari rumput dan memberi makan sapi. Saat wafa pulang, disini sedang pada masanya untuk memupuk padi. Padi yang hijau dan sehat selalu menjadi dambaan orang-orang disini.

***

Di pagi yang mengantuk,

"Wah, tangi ayo neng ladang", bapak.

Seketika wafa terbangun dan dengan mata sayup-sayup berjalan menuju suara itu. Ternyata pagi ini jadwal untuk ngalkon, yakni sebutan untuk memompa air dari kali ke lahan pertanian. Demi mendapatkan air untuk pertanian, warga disini memang rela merogoh kocek yang lebih dengan menyewa pompa air untuk mengangkat air dari kali ke lahan pertanian. Untung saja, bapak punya pompa air yang warga disini menyebutnya Alkon. Dan sekarang jatah wafa dan bapak untuk mengangkatnya ke kali.

"ndang, njilio angkong neng lek inul", bapak.

Artinya wafa harus meminjam angkong sejenis gerobak dorong roda satu untuk mengangkat alkon yang belasan kilo ke kali. Untunglah, berkat angkong ini berat dari alkon terasa sedikit lebih ringan. Dan berarti pula, bahwa wafa lah yang harus mendorongnya sampai ke kali, melewati jalan-jalan sempit diantara persawahan.

Sesampainya di sawah, wafa dan bapak harus mengangkatnya lagi ke kali. Karena tak ada jalan untuk angkong  yang wafa dorong ke sawah. Sampailah saat untuk menarik selang sampai ke sawah bapak.

detdetdetdetdet... suara alkon dengan kekuatan 3 tenaga kuda itu. Sekarang air sudah mengucur ke petak sawah. Saatnya pulang dan menunggu beberapa jam untuk petak-petak sawah penuh kemudian mengangkut kembali selang dan alkon kembali ke rumah.

Kegiatan ini berulang beberapa kali dalam sebulan ini. Tentu saja, beberapa hari setelah penuh air pun akan terserap ketanah. Lalu menunggu hujan atau ngalkon lagi.

***

"Mooohh....", tiba-tiba terdengar suara sapi yang kelaparan di kandang. Memang sekarang sudah sore, sudah waktunya sapi untuk makan.

"Wah, babatno suket mburi omah kae gek brukno", kata bapak.

Wafa bergegas mengambil sabit untuk mebabat rumput di belakang rumah. Sebelum digunakan memotong rumput, wafa harus mengasah terlebih dahulu sabit yang akan digunakanya. Sedikit membosankan, tapi mau bagaimana lagi. Jika tidak begitu, sabit tak akan mempan membabat rumput yang besar-besar di belakang rumah.

Bapak memang sudah menanam rumput di sekeliling rumah. Berjaga-jaga ketika datang musim seperti ini, dimana semua sawah ditanami padi dan membuat rumput semakin langka. Beberapa tetangga sampai menghabiskan perjalanan beberapa kilometer untuk mencari rumput bagi ternak mereka. Untung saja, wafa hanya perlu ke belakang rumah langsung dapat rumput.

Rumput ini memang mbeleri, dimana bisa membuat kulit lecet dan membuat luka-luka kecil yang sangat perih ketika tersiram air meskipun tidak berdarah. Setelah wafa membabat habis beberapa rumpun, saatnya wafa mengangkatnya dan membawanya ke pada sapi yang kelaparan ini.

"Iki pi, ben ra bengak bengok wae", kata wafa.

Begitupun beberapa sore berikutnya.


Sapinya Wafa



***

Beginilah kehidupan di desa, mungkin terlihat seru bagi sebagian orang di kota. Tapi, kami disini sudah terbiasa dan bahkan sudah menjadi rutinitas kami. Jadi rasa seru pun hilang dan tinggal semangat menjalani hidup saja.

Tak hanya itu, beberapa hal wafa lakukan selama liburan ini. Seperti memberi makan bebek-bebek yang lucu. Memotret kucing-kucing unyu yang sedang bersantai menikmati hari. Memasak bubur, telor, air dan membuat kopi. Serta kadang mengantarkan nenek ke rumah sakit untuk menjenguk cucunya yang juga adek sepupu wafa.

Sebuah kehidupan petani di tengah hamparan indah ladang padinya yang sebagian orang tak bisa
menikmatinya.

Bebek-bebek



Kucing

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Monumen Jogja Kembali Dengan Berjuta Misteri

Monumen Jogja Kembali atau sering disebut Monjali adalah sebuah museum yang berada di Ringroad utara, Sleman, Yogyakarta. Aku kesana bersama temanku bernama Ishlah. Karena kami memang belum pernah kemari sebelumnya, maka kami mencoba kemari meski sebelumnya ingin ke museum merapi. Bagi teman-teman yang ingin melihat dan mengenang perjuangan masyarakat Indonesia terutama wilayah Yogyakarta, ini merupakan tempat yang cocok untuk dikunjungi. Letak dari Monumen Jogja Kembali yang strategis, memang membuat monjali mudah ditemukan dan menjadi pilihan wisata kami. Pertama kali masuk, kita harus membayar tiket sebesar Rp. 10.000,- yang menurut kami sangat murah. Kita bisa langsung menuju mojali. Pertama kali yang dapat kita lihat, adalah betapa uniknya museum ini dengan bentuk kerucut. Monjali memiliki tiga lantai yang akan kita kunjungi satu per satu. Lantai Pertama Saatnya mengunjungi lantai pertama.Di lantai pertama, terdapat beberapa ruangan yang setiap ruangan berisi benda b...

Cinta

Cinta itu tidak perlu berkorban, ketika kamu sudah merasa berkorban maka saat itulah cintamu hilang. Karena dengan cinta kau akan rela melakukan apapun. Kau pun tidak akan pernah merasa jika hal itu adalah pengorbanan. Semua terjadi karena adanya cinta. Cinta itu unik, mengapa? Karena cinta itu takdir, cinta datang kepada orang yang mungkin kamu tidak tahu siapa dia. Cinta juga datang tanpa alasan. Katika kamu tahu alasan mengapa kamu jatuh cinta, maka itu bukan cinta. Meskipun kau punya kriteria khusus orang yang akan kau cintai, ketika ada orang sesuai dengan kriteria tersebut pun belum tentu kau cinta padanya. Bahkan kau bisa saja mencintai orang yang punya kriteria seperti orang yang kau benci. Apakah cinta identik dengan nikah? Kau bisa merencanakan kapan kau menikah, sedangkan kau tidak bisa mengatur kepada siapa kau akan cinta. Lalu bagaimana dengan cinta dan jodoh? Jodoh adalah ketika dua orang saling cinta. Aku pernah berfikir, mungkin negeri ini kurang ada ras...

Pertama Kali Naik Pesawat

Malam yang panjang, Bayangkan saja, Wafa sudah menunggu dari jam 7 pagi hingga jam 2 malam untuk dapat naik pesawat terbang. Cerita dimulai dari rencana anak-anak yang ingin menanggulangi kalau terjadi kemacetan agar tidak ketinggalan pesawat. Jadi, Wafa dan kawan-kawan naik bus dari Jogja ke Cingkareng sebelum terbang dari Cingkareng ke Tarakan. Mereka berangkat dari Jogja pukul 4 sore, dengan berasama teman-teman yang kompak. Ini merupakan bus yang tergolong mewah. Bagaimana tidak, mereka hanya ber-25 dengan jumlah kursi 50an. Tentu saja, setiap orang bisa tidur dengan leluasa menggunakan dua kursi sekaligus. Tak terasa perjalanan yang panjang telah mereka lalui hingga sampai ke Cingkareng. Perjalanan yang diperkirakan sampai di Cingkaren malam hari ternyata sampai di Cingkareng pagi hari. Pentantian yang panjang pun tiba. Mereka seperti anak ilang di bandara, menanti dari pagi sampai malam. Kegiatanya hanya keliling-keliling bandara sambil liat-liat siapa tau ada cewe...

Kurang Apa Lagi?

Aku sangat merasa cukup, entahlah. Apalagi yang aku perlukan? Semua sudah ada di depan mata. Salah satu konsep paling keren yang aku dapatkan setelah membaca buku "Goodbye, Things: The New Japanese Minimalism" adalah melebarkan rumah, membuat kota ini rumah maka akan mendapatkan segalanya. Menerima tamu? cari saja tempat kopi paling oke di kota, daripada repot membeli alat-alat kopi, gelas dan berbagai hal, cukup traktir saja tamu mu dengan kopi dan snack yang ada disana. Mau makan ke dapur? ada berpuluh warung di kota yang bisa dikunjungi. Ada teman mau menginap? ada puluhan hotel yang bisa ditinggali. Mau tidur nyenyak? ada berbagai pilihan harga kosan. Ternyata hidup di dalam sebuah kamar ukuran 2x3 meter selama 7 tahun lebih tak ada masalah, kota inilah rumah kita sebenarnya. Lebih hebatnya lagi, sekarang aku tinggal di tempat yang semua hal dekat dan bisa dijangkau dengan beberapa langkah kaki. Ada beberapa warung makan, angkringan, mini market, penjual jajanan pasar, lo...

Kisah Kasih Nyata - Menatap Langit

Malam ini, Wafa sering menatap langit, tetapi langit malam ini berbeda. Biasanya wafa menatap langit sendiri. Tetapi, malam ini wafa berdua bersama teman yang juga tertarik dengan dunia astronomi sebut saja si kecil. Sebenarnya, sejak lama wafa ingin menatap langit berdua bersama seseorang (dirahasiakan). Memang untuk hal itu terkabul sangat sulit, apalagi wafa dan dia terpisah jarak yang jauh. Ketika malam ini langit begitu indah, dia tetap ada di jarak yang sangat jauh. Sepertinya impian untuk melihat bintang bersama kian sulit untuk terkabul. Ditambah hati wafa dan dia yang sudah semakin jauh. Cukuplah teropong kecil sederhana yang akan menemani dia melihat bintang ketika wafa jauh. Sementara wafa sudah melupakan dia, tiba-tiba dalam hati wafa berkata, " sayang sekali si mungil gak ikut, padahal langitnya bagus banget ". Sebenarnya wafa sudah mengajak si mungil, tetapi gagal. Akhirnya wafa hanya berdua dengan si kecil. Wafa dan si kecil memang sudah mempersiapkan s...