Langsung ke konten utama

Kurang Apa Lagi?

Aku sangat merasa cukup, entahlah. Apalagi yang aku perlukan? Semua sudah ada di depan mata. Salah satu konsep paling keren yang aku dapatkan setelah membaca buku "Goodbye, Things: The New Japanese Minimalism" adalah melebarkan rumah, membuat kota ini rumah maka akan mendapatkan segalanya.

Menerima tamu? cari saja tempat kopi paling oke di kota, daripada repot membeli alat-alat kopi, gelas dan berbagai hal, cukup traktir saja tamu mu dengan kopi dan snack yang ada disana.
Mau makan ke dapur? ada berpuluh warung di kota yang bisa dikunjungi. Ada teman mau menginap? ada puluhan hotel yang bisa ditinggali. Mau tidur nyenyak? ada berbagai pilihan harga kosan. Ternyata hidup di dalam sebuah kamar ukuran 2x3 meter selama 7 tahun lebih tak ada masalah, kota inilah rumah kita sebenarnya.

Lebih hebatnya lagi, sekarang aku tinggal di tempat yang semua hal dekat dan bisa dijangkau dengan beberapa langkah kaki. Ada beberapa warung makan, angkringan, mini market, penjual jajanan pasar, lotek, laundry, mie ayam, bakso, geprek, dan cafe.

Kurang apa lagi? aku sudah punya segalanya yang aku butuhkan. Uang? aku bisa bekerja secara remote. Mungkin satu masalahnya, sepi. Menjalani segalanya sendiri membuatnya membosankan. Mungkin aku perlu teman untuk mengobrol, membayangkan indahnya masa depan dan mengenang lucunya masa lalu dan befikir apa yang harus kita lakukan hari ini.

Aku sepertinya harus pergi, mencoba melihat ada apa di luar rumah ini. Menemukan teman di luar rumah yang bisa aku ajak cerita tentang rumah-rumah yang pernah kita kunjungi. Sepertinya aku perlu mengikuti jejak nabi untuk hijrah sekitar 490Km dari mekah ke madinah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenang Mantang

Waktu telah berjalan beberapa tahun... Hari ini adalah hari yang spesial, ketika sobat wafa sudah punya pacar dan hari ini tidak seperti biasanya. Biasanya sobat wafa selalu pulang bersama wafa dengan sepeda motor warna merah, tapi khusus hari ini karena sobat wafa sedang ada kencan bersama pacarnya jadi wafa pulang sendiri. Tetapi tenanglah, wafa sudah mempersiapkan acara lain. Wafa memang anak yang malas pulang, terbukti tiap pulang sekolah pasti menyempatkan waktu untuk ngobrol ngalor-ngidul  di sekolahan. Mungkin jin penunggu sekolah sampai kenal dengan wafa, karena setiap hari wafa selalu pulang sore. Meski banyak teman-teman yang pulang sore karena les atau bimbingan belajar, tapi wafa tetap saja tidak mau ikut. Wafa malah cuma menghabiskan waktu mengobrol dengan sobat wafa di depan gedung sekolah. Rencananya, hari ini wafa ingin datang bersama si cewek sotoy ke acara di dekat sekolah. Si sotoy ini memang sobat perempuan wafa yang yang paling sotoy diantara sobat wa...

Aku Anak Seorang Petani

Aku adalah anak dari seorang petani, menjadi anak seorang petani, mungkin akan sangat berbada dengan anak-anak lain yang biasa hidup di kota. Banyak hal bisa aku dapatkan karena aku merupakan anak seorang petani. Ayah ibuku petani, jadi aku sering ikut untuk ke sawah dan membantu berbagai hal yang dapat aku bantu. Seperti pada gambar diatas adalah fotoku ketika sedang membantu menanam jagun di sawah. Tapi, pasti kalian bingung, disitu tidak ada jagungnya. Menanam jagung memang berbeda dengan menanam padi, menanam jagung dilakukan dengan menanam bijinya secara langsung. Saat itu, ketika saya sedang ikut membantu menanam jagung, sawah kami tidak dibajak mengingat biaya untuk membajak sawah tidaklah murah. Selain itu, ayah dan ibuku mencoba untuk menanam dengan metode baru yaitu tanpa dibajak dan hanya menggunakan abu dari jerami kering sisa panen padi yang dibakar. Menanam jagung, dilakukan dengan maju tidak seperti menanam padi yang mundur. Jagung ditanam pada lubang yang telah...

Pulang Kampung

Tak terasa bulan Januari sudah hampir terlewati, bulan pertama di tahun 2019. Seperti tahun-tahun sebelumnya, wafa pulang ke kampung halaman.  "Perjalanan mencari cerita hidup" membawa wafa jauh dari rumah dimana wafa dilahirkan. Keinginan untuk pulang memang pasti selalu ada untuk kita yang pergi jauh, begitupun wafa. Karena ini libur panjang wafa akan pulang. Seperti biasa, wafa menggunakan mode transportasi yang paling murah. Memang tak menjamin akan selalu ada angkutan. Wafa mulai mulai memesan tiket dari bulan desember dan berencana tanggal 1 atau 2 Januari pulang kampung. Tapi apa daya, tiket untuk tanggal segitu sudah habis. Akhirnya wafa dapat tanggal 3 Januari, eh pas sudah siap-siap di tanggal itu, wafa mendapatkan telfon dari agen bus. Katanya, bus untuk hari ini tidak jadi berangkat dan akan diganti tanggal 5 Januari. Yasudah, akhirnya wafa pulang tanggal 5 Januari, meskipun hati sedikit kesal karena tak bisa pulang lebih cepat. Perjalanan yang tak jelas, ...

Teman Adalah Aset?

Kalau kamu punya banyak teman, maka bahagialah. Setiap orang yang ada di dalam hidup mu adalah guru kehidupan, beberapa orang mungkin akan mengajari rasa sakit dan yang lain mengajari kebahagiaan mengajari indahnya menerima keadaan. Kebahagiaan dan rasa sakit sangat dibutuhkan untuk kita manusia biasa, bahkan ada beberapa orang yang sengaja mencari rasa sakit karena tak datang seacara alami. misanya makan pedas. Wafa adalah seorang pemalu yang sangat tertutup untuk orang baru, hal itu sudah wafa sadari sejak SMP dengan tak berani menatap mata seseorang ketika berbicara. Hal ini membuat wafa sering kali sulit mempunyai banyak teman. Jika kamu sudah mengenal wafa sejak lama kamu pasti tahu siapa teman wafa, ya itu-itu saja. Sebuah anugerah atau sebuah masalah memiliki sedikit teman, tapi dengan sedikit teman wafa bisa punya waktu untuk mengobrol lebih intens dengan orang-orang itu. Banyak hal yang sudah wafa pelajari dari obrolan-obrolan itu. Belajar dari ngobrol adalah salah satu cara ...

Terbang Bersamamu

*** Wafa bertemu dengan si cantik di sebuah bukit. Itu bukit yang benar benar indah, pemandangan sekeliling begitu indah. Perbukitan ini belum pernah wafa lihat sebelumnya. Terhampar bukit-bukit yang begitu menyejukkan mata. Kali ini wafa tidak membawa motor merah kesayanganya, tetapi membawa sepeda biru. Sepeda biru dengan tempat duduk di bagian belakang. Si cantik pun duduk di belakang dengan memeluk wafa. Sungguh ini merupakan pengalaman pertama wafa di peluk oleh seorang gadis. Jantung wafa pun berdetak kencang, wafa sampai tak bisa berkata-kata. Seirirng berjalanya waktu, wafa mulai terbisa dan mencoba untuk bertingkah biasa saja. Seperti di film-film, wafa dan si cantik naik sepeda di atas sebuah bukit dengan si cantik yang memeluk erat wafa. Wafa menggoes sepedanya semakin cepat melewati sebuah jembatan. Wafa dan si cantik asik bercakap-cakap, sambil menikmati pemandangan perbukitan yang begitu indah. Ini merupakan pengalaman yang berharga bagi wafa, tidak hanya me...